Senin, 07 Desember 2015

Menyapa Kenangan

Semakin malam, semakin jauh hari ini tenggelam. Sendiri menatap hari, dan terdiam di waktu yang mati. melupakanmu bukan perkara mudah, karena banyak cerita bersamamu yang terangkai begitu indah. namamu yang masih terangkai di hati, membuat ku mengingat kau berkata aku takan terganti.
tertawa ku mengingat, walau jiwa terasa tersengat. sudah lah aku bukan menyesal setelah kau pergi, aku hanya menyapa masa lalu yang masih memanggilku kala pagi. apa kabar kenangan? kini mengingatmu aku enggan.

restu dalam harap

hari yang cerah kini mulai memerah menantang, matahari berganti bulan dan gelap pun datang.
seiring daun-daun terhembus angin, cerita kita bejalan dan cintapun terjalin.
bulan malam itu tersenyum merekah indah, saat melihat cantiknya dirimu dengan pipi yang memerah.
jabatan tanganmu membuatku bertanya, akan kah kita bisa bersama selamanya?
daun yang gugur akan terganti dengan yang baru, begitupun hidupku yang kini bahagia dengan hadirnya dirimu.
senyumu yang selalu menyapaku saat kita bertemu, membuatku selalu luluh saat aku berada di dekatmu.
taman ini membuatku melupakan penatnya hidup, dan rasanya hanya di pangkuanmu mataku ingin tertutup.
rasa nyaman yang hadir saat bersamamu tak pernah membuatku bosan berada di taman ini, bahkan saat aku memejamkan mata aku berdoa agar kau selalu berada di sini.
di dalam hatiku, bersamaku, dan kita selalu bersatu, dalm ikatan penuh restu.

Pelukan selamat tinggal

Jika ada keindahan saat pagi datang, itu adalah embun pagi, menyambut mentari dengan menantang, dan memancarkan keindahan dengan menari. kau datang kedalam hidup ku tanpa permisi, dan tanpa bersalah kau langsung mengetuk hati. Semua terasa indah saat kita memecah hening dalam tawa, tapi semua seakan sirna saat kenyataan menamparku dengan kecewa.
Bukan kah tuhan mencintai kedamaian? Tapi mengapa harus selalu ada perbedaan. Saat kau mengepalkan tangan, aku pun membuka tangan. Berbeda memang. tapi tetap untuk satu tujuan, ya berdoa kepada tuhan. Bukan kah setiap manusia mempunyai kepercayaan, dan kenapa harus selalu berbicara perbedaan?. Jika cinta itu buta, kenapa begitu banyak rumus di cerita kita?. Aku mencintaimu, dan begitupun juga dirimu.
Seakan menantang takdir, aku berjalan di melawan hilir. rintik hujan menusuk kelembapan kulit, hingga ku sadar menerima kenyataan ini begitu sulit. kini hujan semakin deras, dan meneduh pun aku malas. pada hujan aku bertanya, bolehkah aku menangis?, mengingat harapanku semakin menipis.
Dari kejauhan kulihat wanita dengan payung di tangan kanan, dan membuatku sedikit tersenyum dalam lamunan. Ya itu lah kau natashia, wanita yg membuatku mati seribu bahasa. Wanita yang paling ku cinta, tapi apakah itu kan menjadi nyata?.
Air hujan di pipi membuatmu diam tanpa kata, hingga ku sadar itu adalah sebuah air mata, saat payung mu jatuh, hatiku pun luluh. seakan terdiam terpaku, pelukanmu menghangatkan ku. Perhatianku teralih oleh benda yg melingkar di tanganmu yang kidal, dan aku pun tersadar bahwa tadi adalah pelukan selamat tinggal.
Bagaimana aku bisa berpaling? Jika hanya padamu hati ini ingin bersanding. Setidaknya aku berusaha tersenyum, saat dirinya membuatmu tersenyum. Setidaknya aku bisa bertahan, walau harus hadir dalam pernikahan. Kini kau bersamanya, membangun janji bersama selamanya.
Terimakasih sudah hadir di hidupku, terimakasih sudah membuat tawa dalam hariku, mengajarkan apa arti sebuah kata ikhlas, dan membuatku mengerti apa arti sebuah cinta.
selamat berbahagia. Natashia.